sekarang lagi di perjalanan, aku duduk di jendela kereta, menatap lanskap yang berlalu, sawah hijau, langit kelabu, dan mimpi yang semakin dekat. aku dalam perjalanan menuju tempat baru, mengejar mimpiku, langkah berikutnya dalam hidupku yang penuh ambisi. tapi bjir, kereta ini panjang jalannya, dan aku gabut. earphone di telinga, music lembut lana del rey dari playlist lama mengalun, entah kenapa, itu mengingatkanku pada seseorang. jadi, di antara deru rel dan mimpi yang belum kulihat, aku buka laptop dan menulis. ini cuma cerita tentang cowok yang pernah singgah di hati dan tentang aku, cewe gila yang belajar bahwa menang bukan cuma soal mendapatkan, tapi memahami diri sendiri. so, let me spill my heart, one word at a time. "sometimes, you chase a heart not because you want to keep it, but because you want to prove you can." anjir, hidupku akhir-akhir ini kaya novel yang penulisnya lupa kasih akhir bahagia. aku dengan gengsi setinggi langit, pernah jatuh ke lubang overthi...
Eyyo wazzapp (bjir sok asik)! FYI kalau kalian baca ini, artinya aku lagi duduk di gedung FKM UI, nunggu jadwal tes SIMAK UI buat S2 Magister Psikologi . Yes, I’m just hours away from chasing my dream to be a UI master’s student! Merinding, excited, deg-degan semua campur aduk. Jujur, gak nyangka banget bisa sampai di titik ini. So, let me take you through my rollercoaster journey dari bingung pilih kampus sampe akhirnya berani bilang, “I’m ready for this!” The Dilemma: UI or UGM? Awal mula, aku bener-bener stuck milih antara UI dan UGM buat S2 Psikologi. UI was my dream campus sejak SMA reputasinya, living allowance LPDP yang lebih gede, dan sistem LoA dulu baru matrikulasi bikin aku ngiler. Tapi, SIMAK UI tuh gak gampang, dan biaya daftar 1,3 juta bikin aku mikir, “Sayang duit kalau gak lolos.” Di sisi lain, UGM keliatan lebih chill aku udah familiar sama Jogja, dan suasananya kayaknya lebih santai. Tapi, prapasca UGM mahal (10 juta!), plus biaya hidup 6 bulan gak dicover LPDP. It wa...
dulu bapak pernah bilang "selama bapak besarin empat anak-anak perempuan bapak ini, bapak udah abisin dua truk obat sakit kepala" tentu saja kalimat itu bukanlah makna yang sebenarnya. ya. bapak saya memang agak sedikit hiperbola haha. dulu respon saya mendengar kalimat bapak kayak "mang eak?" ngga, ding. gak gitu. gak tau juga dulu saya merespon seperti apa. nampaknya otakku tak menyimpan ingatan itu. pak, pasti berat ya mengurus empat anak perempuan sendirian? sejak tulisan ini dibuat bapak udah hebat banget membesarkan kami dengan sepenuh hati seperti anak sendiri (ya memang anak sendiri sih, emang malika?). semoga kedepannya kami bisa membanggakan bapak ya, bisa jadi anak-anak yang solehah, aamiin. sekarang kerjaan saya berhubungan dengan anak-anak perempuan juga loh pak. gak cuma empat, ada empat puluh lima. usianya setara sih, di usia remaja semua (15-18 th). banyak sekali suka dan dukanya pak. kalo urusan tangis, gak usah ditanya karena udah langganan. bahkan...
Komentar
Posting Komentar