dulu bapak pernah bilang "selama bapak besarin empat anak-anak perempuan bapak ini, bapak udah abisin dua truk obat sakit kepala" tentu saja kalimat itu bukanlah makna yang sebenarnya. ya. bapak saya memang agak sedikit hiperbola haha. dulu respon saya mendengar kalimat bapak kayak "mang eak?" ngga, ding. gak gitu. gak tau juga dulu saya merespon seperti apa. nampaknya otakku tak menyimpan ingatan itu. pak, pasti berat ya mengurus empat anak perempuan sendirian? sejak tulisan ini dibuat bapak udah hebat banget membesarkan kami dengan sepenuh hati seperti anak sendiri (ya memang anak sendiri sih, emang malika?). semoga kedepannya kami bisa membanggakan bapak ya, bisa jadi anak-anak yang solehah, aamiin. sekarang kerjaan saya berhubungan dengan anak-anak perempuan juga loh pak. gak cuma empat, ada empat puluh lima. usianya setara sih, di usia remaja semua (15-18 th). banyak sekali suka dan dukanya pak. kalo urusan tangis, gak usah ditanya karena udah langganan. bahkan...
Aku nggak tahu, apakah kamu sadar bahwa satu demi satu momen kecil kita, ternyata tumbuh jadi sesuatu yang diam-diam hangat di dadaku. Kadang hidup mempertemukan dua orang bukan untuk berjalan bersama selamanya, tapi untuk saling belajar, saling menguatkan, meski cuma sebentar. Aku pernah menatapmu dengan mata penuh binar, saat kamu belum sadar. Aku pernah menyebut namamu diam-diam dengan malu-malu. Aku pernah menganggap senyummu sebagai bonus hari baikku. Tapi aku juga sadar, tidak semua rasa harus dimiliki, dan tidak semua harapan harus diperjuangkan. Aku belajar bahwa mencintai bukan soal memiliki, tapi tentang merestui langkah seseorang meski langkah itu menjauh dariku. Mungkin nanti, saat kamu sudah sangat jauh—entah dalam jarak, waktu, atau kisah hidupmu—aku akan tersenyum sendirian, mengingat pernah ada seorang yang membuatku percaya bahwa debar kecil bisa muncul dari hal sederhana: tatapan mata, tumpukan tepung, atau foto terakhir sebelum perpisahan. Aku gak tahu apakah kamu ta...
Eyyo wazzapp (bjir sok asik)! FYI kalau kalian baca ini, artinya aku lagi duduk di gedung FKM UI, nunggu jadwal tes SIMAK UI buat S2 Magister Psikologi . Yes, I’m just hours away from chasing my dream to be a UI master’s student! Merinding, excited, deg-degan semua campur aduk. Jujur, gak nyangka banget bisa sampai di titik ini. So, let me take you through my rollercoaster journey dari bingung pilih kampus sampe akhirnya berani bilang, “I’m ready for this!” The Dilemma: UI or UGM? Awal mula, aku bener-bener stuck milih antara UI dan UGM buat S2 Psikologi. UI was my dream campus sejak SMA reputasinya, living allowance LPDP yang lebih gede, dan sistem LoA dulu baru matrikulasi bikin aku ngiler. Tapi, SIMAK UI tuh gak gampang, dan biaya daftar 1,3 juta bikin aku mikir, “Sayang duit kalau gak lolos.” Di sisi lain, UGM keliatan lebih chill aku udah familiar sama Jogja, dan suasananya kayaknya lebih santai. Tapi, prapasca UGM mahal (10 juta!), plus biaya hidup 6 bulan gak dicover LPDP. It wa...
Komentar
Posting Komentar