Aku nggak tahu, apakah kamu sadar bahwa satu demi satu momen kecil kita, ternyata tumbuh jadi sesuatu yang diam-diam hangat di dadaku. Kadang hidup mempertemukan dua orang bukan untuk berjalan bersama selamanya, tapi untuk saling belajar, saling menguatkan, meski cuma sebentar. Aku pernah menatapmu dengan mata penuh binar, saat kamu belum sadar. Aku pernah menyebut namamu diam-diam dengan malu-malu. Aku pernah menganggap senyummu sebagai bonus hari baikku. Tapi aku juga sadar, tidak semua rasa harus dimiliki, dan tidak semua harapan harus diperjuangkan. Aku belajar bahwa mencintai bukan soal memiliki, tapi tentang merestui langkah seseorang meski langkah itu menjauh dariku. Mungkin nanti, saat kamu sudah sangat jauh—entah dalam jarak, waktu, atau kisah hidupmu—aku akan tersenyum sendirian, mengingat pernah ada seorang yang membuatku percaya bahwa debar kecil bisa muncul dari hal sederhana: tatapan mata, tumpukan tepung, atau foto terakhir sebelum perpisahan. Aku gak tahu apakah kamu ta...
dulu bapak pernah bilang "selama bapak besarin empat anak-anak perempuan bapak ini, bapak udah abisin dua truk obat sakit kepala" tentu saja kalimat itu bukanlah makna yang sebenarnya. ya. bapak saya memang agak sedikit hiperbola haha. dulu respon saya mendengar kalimat bapak kayak "mang eak?" ngga, ding. gak gitu. gak tau juga dulu saya merespon seperti apa. nampaknya otakku tak menyimpan ingatan itu. pak, pasti berat ya mengurus empat anak perempuan sendirian? sejak tulisan ini dibuat bapak udah hebat banget membesarkan kami dengan sepenuh hati seperti anak sendiri (ya memang anak sendiri sih, emang malika?). semoga kedepannya kami bisa membanggakan bapak ya, bisa jadi anak-anak yang solehah, aamiin. sekarang kerjaan saya berhubungan dengan anak-anak perempuan juga loh pak. gak cuma empat, ada empat puluh lima. usianya setara sih, di usia remaja semua (15-18 th). banyak sekali suka dan dukanya pak. kalo urusan tangis, gak usah ditanya karena udah langganan. bahkan...
sekarang lagi di perjalanan, aku duduk di jendela kereta, menatap lanskap yang berlalu, sawah hijau, langit kelabu, dan mimpi yang semakin dekat. aku dalam perjalanan menuju tempat baru, mengejar mimpiku, langkah berikutnya dalam hidupku yang penuh ambisi. tapi bjir, kereta ini panjang jalannya, dan aku gabut. earphone di telinga, music lembut lana del rey dari playlist lama mengalun, entah kenapa, itu mengingatkanku pada seseorang. jadi, di antara deru rel dan mimpi yang belum kulihat, aku buka laptop dan menulis. ini cuma cerita tentang cowok yang pernah singgah di hati dan tentang aku, cewe gila yang belajar bahwa menang bukan cuma soal mendapatkan, tapi memahami diri sendiri. so, let me spill my heart, one word at a time. "sometimes, you chase a heart not because you want to keep it, but because you want to prove you can." anjir, hidupku akhir-akhir ini kaya novel yang penulisnya lupa kasih akhir bahagia. aku dengan gengsi setinggi langit, pernah jatuh ke lubang overthi...
Komentar
Posting Komentar